Lalu bagaimana jika kalian belum pernah melaksanakan sebuah target atau menjalankan sebuah tujuan baru, apakah pengalaman atau energi tersebut ada? Apakah kalian merasa pesimis dan tidak akan mampu mencapainya? Tujuan dapat diartikan juga sebagai impian, cita-cita, atau panggilan jiwa. Sewaktu kecil dulu, pernahkah kalian ditanya "mau jadi apa kalau sudah besar nanti"? Coba ingat apa jawaban spontan kalian saat itu, misal "saya ingin menjadi pemain sepak bola" atau "saya ingin menjadi penyanyi" dan lain sebagainya. Lalu semakin besar kalian semakin mengetahui ingin menjadi apa sebenarnya jika sudah besar nanti. Semakin kalian dewasa, tujuan tersebut harus semakin mengerucut pada potensi diri yang kalian miliki.
Persiapan sebelum menetapkan sebuah tujuan.
Pertanyaan di atas akan segera terjawab. Jadi hal pertama yang yang harus kalian persiapkan sebelum menetapkan sebuah tujuan adalah mengingat pertanyaan "ingin jadi apa kalau sudah besar nanti?" apakah jawabannya ada hubungannya atau akan berpengaruh untuk cita-cita kalian saat ini. Mari kita buat contohnya, minggu depan adalah ujian masuk perguruan tinggi dan kalian masih sedikit bimbang dengan pilihan jurusan atau fakultas yang akan dipilih. Sahabat kalian menyarankan untuk memilih fakultas ekonomi karena kalian dilihat selalu mengerjakan tugas dan selalu mendapatkan nilai yang bagus untuk mata pelajaran ini. Sedangkan kalian ingin sekali masuk fakultas seni, karena dimasa sekolah aktif di bidang musik atau seni peran, dan sejenisnya.Kalian harus ingat bahwa keputusan yang kalian ambil saat aktif di bidang musik atau seni peran dulu, apakah itu kalian sadari atau tidak, merupakan sebuah tujuan dan saya yakin kalian telah banyak belajar untuk itu, kalian sudah memiliki pengalaman, menyukai bidang tersebut, dan yang terpenting kalian telah memiliki energi atau modal untuk melangkah ke tujuan yang lebih tinggi. Untuk hal ini, lihatlah mana energi terbesar yang kalian miliki lalu pertimbangkanlah energi eksternal. Maksudnya begini, misalnya ibu kalian menyukai musik atau ayah kalian seorang pemimpin di sebuah perusahaan yang memiliki manajemen yang baik, dan lain sebagainya. Karena dapat saja talenta yang dimiliki orang tua terwariskan ke dalam diri kalian.
Adakah yang berpikir seperti ini "apakah mungkin saya dapat menguasai pelajaran jika saya masuk di fakultas seni?" atau "apakah mungkin setiap karakter dapat saya perankan dengan baik?" atau "apakah mungkin musik yang saya mainkan akan terdengar indah?" dan "apakah saya akan berhasil melakukan itu semua?" Inilah yang disebut dengan pertanyaan kemungkinan. Saya ingin mengatakan kalian adalah orang yang luar biasa, karena telah berpikir atas kemungkinan-kemungkinan yang akan muncul. Ada sebuah buku yang mengatakan bahwa "ada kuasa di balik cara berpikir yang mempertimbangkan kemungkinan, jika kalian percaya dapat melakukannya, maka kalian memang dapat melakukannya".
Energi kalian akan meningkat jika suatu hari setiap kemungkinan tersebut dapat teratasi. Ada seorang yang mengatakan "buatlah rencana anda sehebat mungkin, karena dua puluh lima tahun dari sekarang anda akan bertanya-tanya mengapa anda tidak membuatnya lima puluh kali lebih besar" Saat kalian mengajukan pertanyaan kemungkinan tersebut, maka kalian telah membuat sebuah rencana. Jadi maksudnya adalah saat rencana tersebut berhasil, kalian akan berpikir kebelakang mengapa dulu tidak membuat rencana atau pertanyaan yang lebih banyak. Karena itu, yakinlah pada setiap pertanyaan yang muncul dari diri kalian itu dapat teratasi.
Persiapan setelah menetapkan sebuah tujuan.
Mari kita lanjutkan contoh cerita ini. Kemudian kalian diterima dan masuk di fakultas seni di sebuah universitas. Pertanyaan nya adalah, apa yang harus kalian lakukan setelah tujuan tersebut tercapai? atau apa yang harus kalian lakukan setelah menetapkan sebuah tujuan? Jawabannya adalah melangkah ke tujuan yang lebih tinggi, misalnya setelah lulus kuliah kalian akan membuat sebuah home production atau setelah lulus kalian ingin menjadi artis, atau ingin menjadi penyanyi, dan lain sebagainya. Intinya adalah tujuan tidak boleh putus, segera tetapkan tujuan yang lebih tinggi atau kerjakan target yang masih berjalan. Selain itu, kalian harus memiliki komitmen, karena dapat saja tujuan itu berubah karena tawaran-tawaran yang lebih mudah untuk dicapai. Tapi saya percaya, jika impian itu sudah sangat kalian cinta, maka tidak akan terjadi karena sudah mengatahui untuk apa kalian ada di dunia ini.Menentukan tujuan berdasarkan potensi diri.
Misalnya umur kalian sekarang 25 tahun, coba lihat kebelakang saat berumur 7 tahun, lalu tanyakan orang tua kalian hobi atau kebiasaan yang sering dilakukan saat itu. Contoh, saat itu kalian senang sekali bermain masak-masakan, kalian selalu membeli mainan peraga masak-masakan terbaru, kalian tidak ingin mainan tersebut hilang atau rusak. Beranjak umur 15 tahun kalian senang sekali melihat ibu kalian memasak, kalian ikut membantunya setiap ada kesempatan, kalian ingin selalu diajak apabila sedang memasak, kalian mulai mengenal berbagai jenis sayuran, bahan makanan, alat dapur, bumbu, dan sebagainya. Saat berumur 19 tahun kalian memutuskan untuk masuk dan memilih SMK tata boga. Kemampuan memasak kalian semakin baik dan semakin yakin akan kelezatan pada masakan buatan sendiri. Setelah lulus, kalian siap melangkah ke tujuan yang lebih tinggi. Misal bekerja di sebuah restoran terkenal atau berwirausaha membuat restoran sendiri.Contoh lagi, saat umur 7 tahun kalian dibelikan mainan misal gitar-gitaran oleh orang tua kalian dan menyukainya dibanding mainan yang lain, kalian senang mendengar nada atau lagu lalu kalian dibelikan piano kecil dan sangat senang menerima mainan tersebut. Beranjak umur 15 tahun kalian mulai belajar piano dan gitar sungguhan, kalian suka bernyanyi, kalian mulai tertarik dan meminta untuk kursus musik. Pada umur 19 tahun, kalian memiliki sebuah grup band dan selalu aktif ikut serta saat ada festival, kalian mengikuti berbagai kompetisi, bahkan kalian diminta untuk mengisi musik di sebuah acara tertentu oleh sahabat kalian, dan lain sebagainya. Saatnya pun tiba untuk mendaftar ke perguruan tinggi dan kalian menetapkan untuk memilih fakultas seni. Saya yakin disini kalian sudah memahami visi kalian dan mengetahui persis mengapa memilih fakultas tersebut. Saya yakin kalian sudah mempersiapkan tujuan atau target yang lebih tinggi bila sudah lulus nanti.
Pada contoh cerita di atas, sekarang kalian sudah semakin mengerti bagaimana menetapkan sebuah tujuan berdasarkan potensi diri. Potensi diri haruslah dilihat sejak dari kecil hingga umur kalian saat ini, manakah potensi yang paling kalian suka, atau potensi yang paling banyak waktunya kalian perlukan, potensi yang paling banyak energinya kalian perlukan. Potensi diri yang dilatih dan dikembangkan dengan baik dapat menjadi pijakan yang kuat ke tujuan selanjutnya. Potensi diri harus berkembang terus setiap tahunnya walaupun perkembangannya tidak cepat atau sedikit. Perlunya peran orang tua untuk mengarahkan dan tidak memaksa setiap kemungkinan potensi atau bakat yang muncul, setidaknya memberi pilihan pada saat mereka sedang menentukan sebuah pilihan. Misal orang tua memberi pilihan "ingin masuk SMK atau SMA?" atau "ingin masuk fakultas ekonomi atau fakultas seni?" dan sejenisnya.
Semoga bermanfaat.
0 komentar:
Posting Komentar